Uang itu (bukan) Tuhan saya..

Lagi……
Hujan lagi-lagi turun..
Lagi-lagi pekerjaan tertunda karena hujan.. well, satu-satunya sumber untuk menyambung hidup pun harus terputus sementara.

Di seberang sana, warung tenda pun terlihat sepi pengunjung. Hanya beberapa orang yang berdiri hanya untuk meneduh.
Pengertian rezeki pun menjadi samar.

“Hujan itu rezeki nak”
“Tetapi kalau hujan, kami tidak bisa bekerja. Kalau tidak bekerja, kami tidak bisa mendapat kan uang untuk menyambung hidup”

Apa yang salah?
Atau boleh saya bilang,
Siapa yang salah?

Tidak mungkin Tuhan, karena Tuhan maha sempurna.

Pasti kami, manusia yang salah arti.

“Tanpa hujan, tidak akan ada air yang meresap ke tanah. Sumur menjadi kering. Semakin sulit mendapatkan air untuk mandi, minum, mencuci dan hal lainnya”

“Tapi tanpa uang, kami tidak bisa membeli nasi, membayar biaya pendidikan, kesehatan, cicilan, tagihan dan hal lainnya”

Saya pun hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.. 🙂

—–

Di belahan dunia lain, ada keluarga saling bunuh karena hutang uang yang tidak terbayar. Menyedihkan.

“Apakah sepadan apabila sebuah nyawa dan ikatan keluarga ditukar dengan setumpuk uang?”

Tidak. Saya tidak akan menghakimi siapapun.

Lagi-lagi, saya hanya tersenyum.. 🙂

—–

“Kamu kalau sudah besar ingin jadi apa?”

“Aku ingin menjadi pengusaha”

“Kenapa?”

“Biar aku punya banyak uang”

Hehehehehe

—–

Beberapa menjual jiwanya melakukan hal yang sama berulang kali untuk mendapatkan setumpuk kertas setiap bulannya.

Beberapa menanam bibit kebencian karena hutang kertas seikat dua ikat.

Beberapa mengunci rapat-rapat balok besi bahkan pintu rumah demi menyembunyikan beberapa tumpuk kertas.

Beberapa menjual beberapa jam waktu setiap harinya untuk mendapatkan beberapa tumpuk kertas.

—–

Sambil menunggu hujan turun agar dapat melanjutkan pekerjaan, saya kembali tersenyum,

“Semoga Tuhan mereka selalu membuat mereka tenang”

“Ah tidak, apalah saya ini yang hanya manusia, tidak sempurna dan masih membutuhkan Tuhan mereka untuk menyambung hidup”

-Hujan pun berhenti-

Waktu..

Jika saat itu saya datang,
Jika saat itu saya menghubunginya,
Jika saat itu saya memperhatikannya,
Jika saat itu saya menemaninya,
Jika saat itu saya bisa menyisihkan 1-2 jam,

“Ah apalah arti sebuah “jika” kalau memang sudah terjadi”  begitu batin ku mengingatkan..

5 bulan sudah matahari dan bulan bergantian menemani para anak adam menjalani omong kosong ini. Selalu sama yang saya utarakan.

“Ada acara hari ini? Bisa kita bertemu?”
“Maaf, saya kerja sampai malam.”

Mungkin terdengar seperti kemalasan yang bersembunyi di ketiak aktifitas.
Tidak. Bukan seperti itu. Ini semua karena tanggung jawab omong kosong.
Omong kosong yang mungkin hanya berumur (paling lama) 60 tahun.
Omong kosong pengorbanan.
Omong kosong balas budi.
Omong kosong kerja keras.

Tapi ini sudah menjadi pilihan.
Nasi pun telah menjadi bubur.

Bukannya ingin terlihat laki-laki,
Tetapi ini hanya sebuah pembuktian.

Lagi-lagi..

Pembuktian omong kosong.

“Hai, kamu apa kabar?”

“Maaf ini siapa ya? No. Ini tidak ada di contact saya”

“Oh oke, salah sambung sepertinya. Maaf 🙂 ”

Kejadian yang berulang kembali. Serupa tapi tidak sama.

Cuma keluhan yang bisa keluar dari mulut ini.
Dan penyesalan.

Hai kau omong kosong, semoga semua yang kulakukan ini dapat membuahkan hasil yang sepadan.

Semoga…..

Tanpa terasa sudah 4 tahun.
Dan saya pun masih memperjuangkan omong kosong ini dan mengabaikan (mungkin) masa depan saya.

“Ah andai waktu bisa dibeli”

🙂