Merdeka!

Selamat hari kemerdekaan Indonesia tahun ke 69..

Ya, begitu menurut buku sejarah anak sekolah dasar dan media berita.

17 Agustus 1945.. 69 tahun yang lalu putra putri Indonesia memproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Tapi apa bangsa ini benar-benar merdeka?
Tidak lama setelah itu, sekutu yang (katanya) diboncengi berusaha menguasai.. agresi militer satu dan dua.. sampai berpindah ibukota karena jayakarta telah dikuasai asing.

Merdeka apanya?

Butuh beberapa kali perjanjian seperti linggarjati sampai meja bundar.. dan itu pun masih diganggu dengan isu papua barat (bahkan sampai sekarang)..

Setelah gangguan asing mulai padam, isu PKI pun meningkat.. kali ini gangguan dari pihak dalam. Terlepas siapa yang menjadi dalang, perasaan takut karena pembantaian tetap tidak bisa dibilang sebuah kemerdekaan.

Pemberontakan selesai, kemudian Orde baru muncul.. kalian merasa merdeka di jaman itu? Tanyakanlah sendiri kepada orang tua kalian yang hidup di jaman itu.

Rakyat mulai lelah dengan orde baru, terjadi kerusuhan mei 1998.. lagi2, rasa takut, tidak nyaman bukan sebuah kemerdekaan.

Sekarang pemilihan presiden yang hanya 2 calon menimbulkan rasa tidak aman dan siaga..

Merdeka apanya?

Tidak, saya tidak akan membahas sejarah kali ini. Sudah cukup guru kalian di sekolah dan media-media dengan segala “maksud” telah menjelaskan kepada kalian sejarah bangsa ini.

Apa pengertian merdeka? Buat saya merdeka itu bebas dari perasaan takut, cemas, emosi, dapat mengapresiasikan diri sendiri, tidak ketergantungan, dan dapat berkarya.

Ya pengertian merdeka memang berbeda setiap manusia.

Tapi coba tanyakan kembali ke diri kalian sendiri. Apakah kalian telah merdeka sebagai individu?

Berapa banyak kenalan anda yang takut akan kehilangan? Baik harta atau lainnya..

Berapa banyak kenalan anda yang harus menghabiskan waktu 12-14 jam untuk bekerja untuk kebutuhan hidup?

Berapa banyak kenalan anda yang khawatir dengan apa yang akan mereka lakukan besok untuk memenuhi kebutuhan?

Berapa banyak kenalan anda yang sangat cemas karena terlilit tagihan yang jatuh tempo?

Berapa banyak kenalan anda yang kesal bangun di pagi hari karena harus kembali bekerja?

Tanyakan sekali lagi ke diri anda.

Apa saya sudah merdeka?

~~~

Advertisements

Takdir..

“Mungkin memang takdir lo begitu”

Candaan waktu kecil yang masih dianggap sepele waktu itu.

Takdir memang misteri.. saya tidak pandai dalam hal agama, tapi apabila salah, tolong dikoreksi.

Di agama saya diwajibkan untuk mempercaya takdir yang telah ditentukan Allah swt sejak nyawa dihembuskan ke raga manusia.

Jika memang ditakdirkan begelimang harta, ya bagaimana prosesnya, kalian tetap bergelimang harta saat dewasa. Kira2 begitu lah pengertian takdir menurut saya yg tidak pandai dalam hal agama.

Bagaimana dengan yang ditakdirkan menjadi penyakitan dan harta yang “berkecukupan” (saya sebut seperti itu krn di agama saya hanya ada kaya dan berkecukupan harta) ?

Sekeras apapun berusaha, tetap akan penyakitan dan berkecukupan?

Akan tetap seperti itu karena telah ditakdirkan begitu?

Adil kah?
Bagaimana dengan konsep ikhtiar?

Ah siapa saya menanyakan sebuah keadilan..
Ikhtiar? Nanti saja saya tulis judul baru untuk membahas itu..

Hidup akan lebih sederhana apabila kalian ditakdirkan mencari upah untuk mempertahankan hidup diri kalian sendiri.

Tapi bagaimana dengan yang ditakdirkan mencari upah untuk mempertahankan hidup orang tua dan saudara kandung kalian?

Frustasi, air mata, keringat, kebahagiaan pasti akan berbeda dengan diantara kedua orang dengan situasi yg saya jelaskan diatas.

Atau mungkin salah satu dari kedua orang tersebut memang telah ditakdirkan surga?

Nikmat mana lagi yang kau dustakan bila kau memang ditakdirkan surga..

Kita kesampingkan surga..

Tanpa surga, apakah kalian masih ingin berjuang mencari upah untuk mempertahankan hidup orang tua dan saudara kandung kalian?

Jika tidak, kita memang benar2 telah dekat sekali dengan kehancuran kehidupan duniawi..

~~~