Anak Orang “Kaya” yang Tetap “Kaya”

Sebelum mulai, baiknya kita luruskan dulu pengertian kaya disini. kaya pada judul ini bukan berarti kaya sesuai pengertian saya, tapi kaya pada materi. Mengerti? Kalau belum, silakan kalian baca dari atas lagi sampai mengerti. Sudah? Mengerti? Oke, saya lanjut ke paragraf berikutnya.

“Yaelah bro, modal ngabisin duit bokap nye aje belagu doi”,

sering dengar kalimat sinis seperti itu? Apa? Belum pernah? Artinya kalian kurang bersosialisasi. Coba lah beberapa kali ke coffee house atau beer house untuk berbincang dengan sahabat atau teman2 kalian. Jangan hanya di depan komputer saja. Hidup itu ga cuma di depan komputer. Buat yang belum pernah, lebih baik jangan lanjutkan bacanya karena selain pola pikir kalian ga akan sampai ke topik ini, saya yakin setelah selesai baca artikel ini, akan ada komentar sinis keluar dari anda untuk artikel ini. Yang sering mendengar ungkapan sinis di atas tadi, silakan lanjut ke paragraf berikutnya.

Rezeki manusia itu berbeda. Sama seperti keberuntungan. Ada yang harus bekerja keras siang dan malam untuk mengaisnya. Ada pula yang hanya duduk di pinggir jalan mendangakan tangan untuk meminta materi. Ada juga yang mengalir lewat tangan orang tua dan tidak jarang juga materi tersebut mengalir lewat om-om berperut besar.

Oke saya tidak akan membahas om-om berperut besar ini. Anak orang kaya. Terlihat memang sangat mudah hidupnya. Mau melamar pacarnya di tempat mewah tinggal bilang orang tua. Mau menikah di tempat paling kece di kota besar pun mudah. Mau party setiap hari gampang. Membawa mobil bagus, berbelanja barang brand top dunia, mengandeng wanita cantik pun bisa dilakukan dengan mudah. Seberuntung itu hidupnya. Benarkah?

Life is not that easy. Remember? Ya, mereka yang tidak seberuntung itu pun akan berkata

” modal orang tua tajir aja  belagu ”

Belagu, tengil, angkuh. Wajar mereka seperti itu, mereka punya uang. Yang tidak wajar, ga punya uang belagu pula.

Ada beberapa hal yang orang tidak beruntung ini tidak tahu.

Pertama itu belagu.
Oke artinya dia berani dan menjadi circle of Attention dari teman-temannya. Yang artinya sifat seperti itu nantinya akan sangat berguna buat dirinya sendiri saat sudah dewasa.

Kedua, kasih sayang orang tua kepada anak itu tanpa batas.
Kalian pikir, orang tua anak tersebut akan dengan bodohnya membiarkan anaknya hanya menghabiskan materi orang tua begitu saja? Kalau masih berpikir seperti itu berarti kalian lebih dari bodoh. Orang tua yang kaya ini memiliki sesuatu yang kalian tidak mengerti mengapa mereka bisa kaya dan pasti akan menurunkan pengetahuannya ke anak yang terus menggerogoti materi orang tuanya. Hanya masalah waktu yang membuat anak berpikir untuk mulai menatap ke depan dan melanjutkan kejayaan orang tua nya. Like father like son. Remember?

Itulah mengapa banyak anak orang kaya yang menjadi kaya atau lebih kaya dari orang tua nya.

Dan mereka yang tidak seberuntung itu, hanya bisa berkomentar sinis dan kembali hanya bisa diam menjalani hari-hari yang membosankan untuk mengejar penghasilan per bulan.

Masih berpikir anak orang kaya hanya sekedar “anak orang kaya”?

Jika iya, kalian lebih lucu daripada monyet sirkus..

~~

Advertisements

Bukan hanya sekedar Ruang Ganti

“Bruk”, pukulan bang Rano ke pintu ruang ini.
“apa-apaan kalian? Sampah!! Kalian pikir, bisa menang dengan cara seperti tadi?”, Teriak bang Rano menggebu-gebu.

Kami semua tertunduk diam tanpa kata. Suasana sangat hening, bahkan tetesan keringat kami pun terdengar saat mencapai lantai.

“Mereka cuma bermain 10 orang dan para kumpulan monyet terlatih bisa bermain lebih baik dari ini! Mau kalian saya ganti dengan monyet-monyet itu tahun depan??” Teriak kasar bang Rano.

“Maaf bang, tapi tanpa Terra, tidak ada yang mengalirkan bola dari belakang ke depan” dengan suara kecil, Sinna menjawab amarah bang Rano.

Dihampiri lah Sinna oleh bang Rano. Dikepal baju Sinna di bagian dada dan kemudian diangkat ke atas.

“Kalian ini adalah pemain-pemain terpilih di negeri ini, anak-anak terbaik dengan skill, fisik, dan individu terbaik. Jangan karena satu orang absen, kalian tidak tahu cara untuk menang. Mengerti Sinna???” Dengan suara lantang, bang Rano membentak Sinna di depan mukanya.

“Me.. me.. me.. mengerti bang. Maaf” jawab Sinna lesu.

Bang Rano kembali ke tempat semula sebelum menghampiri Sinna tadi. Dia pun terdiam selamat 1 menit, dan kemudian kembali berkata,
“ini bukan tentang saya, juga bukan tentang kalian, apalagi tentang staf pelatih. Ini tentang negeri kita sendiri. Bukan kita para pemain dan staf pelatih yang akan dikenal bila kalian juara malam ini, tapi negeri ini!! Negeri ini yang akan mencoretkan tinta emas di catatan sejarah dunia!! Kota semua hanya penyambung, hanya perwakilan yang dianggap terbaik negeri ini. Ayolah jangan egois. Mungkin uang atau bonus yang akan kita terima malam ini bila menang bisa menjadi titik balik kehidupan kalian, tapi apalah arti uang yang akan habis digerus waktu. Mungkin pula nanti di masa tua kita tidak lagi dihargai seperti malam ini setelah juara, tapi apalagi yang bisa kita berikan ke negeri ini setelah kita semua menggerus kekayaan negeri ini sampai rusak? Luapankan rasa terima kasih kepada negeri kita sendiri di sisa pertandingan ini”

Terdiam, hening, mencekam setelah kata-kata bang Rano barusan. Terbakar emosi kami para pemain. Panas, panas hati kami mendengarnya untuk kembali memberikan yang terbaik di lapangan malam ini. Kami pun semua diajak berdiri oleh bang Rano.

“Langkah kan kaki kalian satu persatu kembali keluar sana. Busungkan dada kalian, tunjukan rasa bangga atas negeri ini, rasa haus kemenangan, dan rasa optimis tinggi untuk malam ini. Rebut 1 gol yang tadi mereka ambil. Tim ini pasti bisa jadi juara malam ini, karena kita tim terbaik negeri ini!!”

Gemuruh mulai terdengar diruangan kami. Suasana yang mencekam tadi menjadi riuh semangat dengan emosi tinggi yang membara.

Masuklah seseorang bernama Lexi, dia salah satu staf pelatih kami.
“Baiklah, sekarang dengarkan baik-baik, saya akan menjelaskan seperti apa kalian harus bermain di babak kedua” kata Lexi dengan penuh senyum optimis.

~~