Bukan hanya sekedar Ruang Ganti

“Bruk”, pukulan bang Rano ke pintu ruang ini.
“apa-apaan kalian? Sampah!! Kalian pikir, bisa menang dengan cara seperti tadi?”, Teriak bang Rano menggebu-gebu.

Kami semua tertunduk diam tanpa kata. Suasana sangat hening, bahkan tetesan keringat kami pun terdengar saat mencapai lantai.

“Mereka cuma bermain 10 orang dan para kumpulan monyet terlatih bisa bermain lebih baik dari ini! Mau kalian saya ganti dengan monyet-monyet itu tahun depan??” Teriak kasar bang Rano.

“Maaf bang, tapi tanpa Terra, tidak ada yang mengalirkan bola dari belakang ke depan” dengan suara kecil, Sinna menjawab amarah bang Rano.

Dihampiri lah Sinna oleh bang Rano. Dikepal baju Sinna di bagian dada dan kemudian diangkat ke atas.

“Kalian ini adalah pemain-pemain terpilih di negeri ini, anak-anak terbaik dengan skill, fisik, dan individu terbaik. Jangan karena satu orang absen, kalian tidak tahu cara untuk menang. Mengerti Sinna???” Dengan suara lantang, bang Rano membentak Sinna di depan mukanya.

“Me.. me.. me.. mengerti bang. Maaf” jawab Sinna lesu.

Bang Rano kembali ke tempat semula sebelum menghampiri Sinna tadi. Dia pun terdiam selamat 1 menit, dan kemudian kembali berkata,
“ini bukan tentang saya, juga bukan tentang kalian, apalagi tentang staf pelatih. Ini tentang negeri kita sendiri. Bukan kita para pemain dan staf pelatih yang akan dikenal bila kalian juara malam ini, tapi negeri ini!! Negeri ini yang akan mencoretkan tinta emas di catatan sejarah dunia!! Kota semua hanya penyambung, hanya perwakilan yang dianggap terbaik negeri ini. Ayolah jangan egois. Mungkin uang atau bonus yang akan kita terima malam ini bila menang bisa menjadi titik balik kehidupan kalian, tapi apalah arti uang yang akan habis digerus waktu. Mungkin pula nanti di masa tua kita tidak lagi dihargai seperti malam ini setelah juara, tapi apalagi yang bisa kita berikan ke negeri ini setelah kita semua menggerus kekayaan negeri ini sampai rusak? Luapankan rasa terima kasih kepada negeri kita sendiri di sisa pertandingan ini”

Terdiam, hening, mencekam setelah kata-kata bang Rano barusan. Terbakar emosi kami para pemain. Panas, panas hati kami mendengarnya untuk kembali memberikan yang terbaik di lapangan malam ini. Kami pun semua diajak berdiri oleh bang Rano.

“Langkah kan kaki kalian satu persatu kembali keluar sana. Busungkan dada kalian, tunjukan rasa bangga atas negeri ini, rasa haus kemenangan, dan rasa optimis tinggi untuk malam ini. Rebut 1 gol yang tadi mereka ambil. Tim ini pasti bisa jadi juara malam ini, karena kita tim terbaik negeri ini!!”

Gemuruh mulai terdengar diruangan kami. Suasana yang mencekam tadi menjadi riuh semangat dengan emosi tinggi yang membara.

Masuklah seseorang bernama Lexi, dia salah satu staf pelatih kami.
“Baiklah, sekarang dengarkan baik-baik, saya akan menjelaskan seperti apa kalian harus bermain di babak kedua” kata Lexi dengan penuh senyum optimis.

~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s