Van Gaal’s Philosophy, Newton’s Law, and Amazing Comeback by Klopp

“LALLANAAA!! LOL!!” begitu kira-kira kutipan tweet saya semalam saat menonton pertandingan Liverpool melawan Dortmund.

” HORNY FOOTBALL!! ” Pertandingan kelas atas yang dimainkan di kompetisi kelas dua Eropa. Sayang sekali. High pressure, long ball passing, fast moving, full of pace and passion. Pada akhirnya Liverpool memenangkan pertandingan dengan skor 4-3 dan melaju ke semifinal Europa League. Mencengangkan memang, mengingat mereka tertinggal 0-2 saat turun minum dan masih tertinggal 1-3 pada menit 60. Entah keajaiban dari mana sampai akhirnya mereka bisa unggul di akhir pertandingan. Yang jelas buka Dewi Fortuna, kalau mereka dibantu Dewi Fortuna tentu saja sang legenda yang tidak pernah menjuarai Premier League tidak akan terpeleset saat laga penentuan juara melawan Chelsea. *ups

Satu sorotan saja dalam pertandingan itu, Jürgen Norbert Klopp!! Pria berambut pirang dari jerman ini yang mengubah tim medioker dengan kualitas pemain-pemain yang “biasa saja” menjadi tim yang tidak kenal lelah, bersemangat, dan memainkan sepakbola dari hati. Ya tentu berbeda dengan tim rivalnya yang bermain seperti tanpa arah, tanpa tujuan dan tanpa energi, the lost team Manchester United. Nanti saja di bawah saya bahas tim ini, Karena di bawah tempat seharusnya mereka berada.

Semua orang awam tahu, sebelum pertandingan pasti sudah dilakukan persiapan, mengenai taktik, stamina, dan trik-trik lain dalam memenangkan pertandingan. Tapi bagaimana kalau semua itu tidak berjalan sesuai yang direncanakan saat pertandingan berlangsung? Beradaptasi!! Ya seperti memperbaiki hal yang salah, memotivasi, merubah rancangan permainan. Ini sepakbola. Ada 90 menit, banyak waktu tersisa untuk menebus dosa pada menit-menit awal. Lihat Klopp, berdiri di pinggir lapangan, memotivasi, memberi arahan baru, membentak kepada pemainnya karena dia tau ada yang salah dengan timnya.

Saat Half Time (0-2 untuk Dortmund), setelah memberi arahan taktik untuk babak kedua, Klopp menberikan wejangan kepada pemainnya agar termotivasi. ” Create a game at second half that our children and grandchildren will remember ” what a man!!. Berbanding terbalik dengan Van Gaal yang malah memaki Rasford pada Half time saat melawan spurs krn dianggap tidak berperan dan menggantinya dengan Young yang ditempatkan di centre forward. Stupid!

Kembali ke Klopp, saat babak kedua berjalan pun, pada menit 57, Reus membuat gol yang membuat kedudukan menjadi 1-3. Bukannya duduk berpasrah diri dan mencatat kebodohan anak buahnya di sebuah jurnal, Klopp tetap memberikan instruksi dan memompa semangat para pemainnya. Dan akhirnya semua orang tau kalau mereka telah memainkan pertandingan yang akan selalu diingat oleh anak dan cucu2 mereka.

Bila dihubungkan dengan fisika, apa yang dilakukan Klopp sebenarnya sudah diutarakan oleh Sir Isaac Newton 329 Tahun lalu. Saat itu beliau mempublikasikan 3 teori yang disebut dengan Newton’s Law. Sang jenius ini menyimpulkan 3 buah teori yang menjadi dasar dari mekanika klasik. Pada hukum Newton 2 berbunyi :

Perubahan dari gerak selalu berbanding lurus terhadap gaya yang dihasilkan / bekerja, dan memiliki arah yang sama dengan garis normal dari titik singgung gaya dan benda

Tanpa adanya sebuah gaya, benda tetap akan diam atau tetap bergerak dalam keadaan konstan (hukum Newton 1). Klopp memberikan sebuah dorongan kepada tim nya. Dia tahu betul masalah yang ada di klub tersebut saat datang dari Dortmund. Kurangnya kepercayaan diri, skuat yang tidak bagus-bagus amat, perginya pemain andalan (Sterling), kurang motivasi dan kesatuan dalam tim. Lalu dia menyamakan misi dan visi dalam tim, membuat rancangan permainan, memperbaiki pola permainan, kemudian yang paling penting adalah memotivasi. Liat apa senjata ampuh yang Leicester City punya untuk menjadi teratas saat ini? Semangat dan motivasi. Klopp tahu, Liverpool baru akan gencar belanja pada jendela transfer musim panas season depan, jadi pondasi utama terlebih dahulu yang dikuatkan dengan semua sumber dan keterbatasan yang dimiliki. Tapi apalah kita, hanya manusia yang bisa berencana. Sebaik-baiknya rancangan pasti akan ada benturan-benturan yang terjadi. Ini yang orang-orang bilang “cobaan Tuhan”. Siapa yang sangka Sunderland atau Norwich City bisa bermain baik melawan mereka? Atau Southampton yang tiba-tiba bisa comeback setelah tertinggal 0-2 dari Liverpool?

“Manusia bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.”

Dengan semua kerumitan hidup dan dramanya, ada 1 hal yang tidak pernah berubah dari mr. Klopp, baca ini baik-baik wahai petinggi United,
“Klopp selalu berdiri dipinggir lapangan, berimprovisasi, memotivasi, mengintimidasi wasit dan bench lawan. memberikan rasa tidak nyaman bagi wasit apabila merugikan Liverpool.”

Seperti hukum Newton 2. Dorongan yang diberikan kepada sebuah benda berbanding lurus dengan percepatan yang dihasilkan benda tersebut. Sikap Klopp di pinggir lapangan, memberikan pengaruh positif terhadap para pemainnya di atas lapangan. Well done Mr. Klopp. You deserve it!!

Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica

karya Sir Isaac Newton yang merangkum 3 hukum di atas yang menjadi dasar mekanika klasik, diterbitkan pada tahun 1687. 327 Tahun kemudian, ada kakek yang dianggap menjadi juru penyelamatan tim yang dulu diarsiteki oleh si jenius David Moyes, mengutarakan sebuah filosofi permainan yang akan membawa Manchester United kembali ke puncak kejayaan. Dan filosofi tersebut didukung dengan pernyataannya bahwa dia tidak perlu berteriak-teriak dari pinggir lapangan untuk memberikan instruksi. Hanya perlu duduk di bench dan menunggu hasil terbaik. Karena menurutnya semua masalah pola permainan, taktik, dan lainnya sudah diinstruksikan dalam latihan atau dalam ruang ganti saat sebelum pertandingan dan jeda turun minum.

Saat tim nya sedang tertinggal pun, selalu lambat merespon atau terlalu lama beradaptasi dengan kesalahan-kesalahan anak buahnya. Hanya duduk, bermuka pucat, dan berpura-pura fokus dengan buku cacatannya. Tidak ada yang dilakukan. Bahkan si jenius Moyes pun masih berteriak-teriak di pinggir lapangan walaupun tidak ada para pemainnya yang menghiraukan.

Pada hukum newton 1, yang berbunyi :

Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.

Terbaca jelas, If you do nothing, you get nothing. Tanpa respon apa-apa, ya begitu-begitu aja. Belum lagi keputusan-keputusan taktikal dan penjualan pemain-pemain berpotensi yang dikeluarkan. Entah apa yang dipikirkan para petinggi united yang masih mempercayai Mr. Van Gaal ini. Bahkan para fan pun sudah frustasi dan meminta the special one sebagai manager season depan.

Saat dikalahkan oleh Spurs pada minggu lalu, saat half time, Mr. Philosophy membentak Rashford karena dianggap tidak berkontribusi apa-apa dan mengganti dengan Ashley Young untuk bermain di posisi centre Forward. What? Yes centre Forward. He doesnt know what he’s doing. Tentu ada aksi, ada reaksi seperti hukum newton 3 :

Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah: atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama besar dan berlawanan arah.

Mungkin dengan bentakan ke anak muda 18 tahun, Mr. Philosophy berharap akan mengubah permainan anak buahnya menjadi lebih baik, nyatanya tidak. 3-0 mereka kalah. Telak! Dan #VanGaalOut kembali berkumandang di semua sosial media. Karena bentakan Van Gaal kepada bocah 18 tahun (benda 1), memberikan reaksi yang sama persis seperti hukum Newton 3. Reaksi dr para pemain senior United yang langsung menghadap petinggi United untuk meminta the Special One season depan. Well, your mistake Mr. Philosophy, remember you’re not Fergie.

3 hukum newton dan 2 manager yang memiliki nasib bertolak. Klopp dengan Liverpool nya, dengan didukung beberapa pemain baru akan menjadi tim yang meramaikan papan atas season depan. Bukan tidak mungkin 1-2 tahun dapat menjuarai premier league yang diidam-idamkan legenda mereka, Steven Gerrard.

Van Gaal lebih baik pergi setelah season ini berakhir. Semua sudah salah dari awal. Tidak perlu dijelaskan apa, semua orang pun tau, di maria, Chicarito, kagawa, Cleverley, RVP, lebih baik permainannya di klub baru masing-masing. Jika tetap dipertahankan 1 season lagi (sesuai kontrak Van Gaal), mungkin United akan tenggelam terlalu dalam dan menjadi Liverpool sebelum era Klopp. United butuh manager yang seperti klopp, berambisi. Bukan manager yang sedang mengumpulkan gaji besar yang diterima dari tim terkaya untuk masa pensiunnya. Van Gaal lebih baik pergi saat season ini berakhir dan menikmati masa pensiunnya.

Semoga dia menyesal dengan karirnya di Manchester United dan menyalahkan Murphy’s Law.

What a cunt!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s