Bestfriend said..

Nothing’s better than family, bestfriend, Manchester United, and Hayley Williams for me in this life..

One day, I told him a problem. He said nothing but,

“Eh anjing, kalau elo jadi nikah sama dia, dan elo yang pindah agama, gw ga akan dateng.. ngasih selamat aja pun ngga njing!”

Enough said.. well done best, well done.. :))

Advertisements

Siap (?)

Mulai berdiri beranjak dari tempat duduk menuju kendaraan untuk pulang.. ah saya kurang beruntung., antriannya berlebihan. Ya kira-kira butuh waktu hampir 1 jam untuk keluar dari area tersebut. Sambil membunuh sepi pun kami pun memulai suatu percakapan,

“Kesampigkan tentang suka atau ga suka, kalau kamu ada yang lamar tahun ini, kmu terima?”

“Iya aku terima. Siapa sih yang ga mau nikah? Umur juga sudah segini”

“Oh”

Kendaraan pun mulai maju sedikit demi sedikit. Gatal rasanya ingin menerobos seenak jidat agar cepat keluar dari antrian tersebut. Ya tapi kami tidak cukup jongos untuk berbuat seperti itu.

“Aku siap kok kalau ada yang ajak nikah. Walaupun aku sedang tidak ada partner, tapi aku tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang istri”

“Hehehe”

Sudah lebih 30 menit mengantri untuk keluar, tapi belum selesai juga. Ah membosankan.

“Aku juga siap. Ya mungkin aku terlihat seperti tidak menyiapkan apa-apa, tetapi aku memikirkan semua hal ysng diperlukan. Menurut kamu?”

“Kalau dari pengelihatan aku dan mungkin karena kuantitas kita bertemu kecil, kamu seperti tidak terlihat siap”

“Kalau aku bilang aku siap, kamu percaya?”

“Aku percaya.”

“Segampang itu?kan aku terlihat belum siap menurut kamu.”

“Selama kamu bilang kalau kamu siap, berarti kamu memang sudah siap. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Itu sudah cukup buat aku”

Akhirnya kami keluar dari area tersebut dan berpisah di tempat yang telah disepakati.

🙂

Uang itu (bukan) Tuhan saya..

Lagi……
Hujan lagi-lagi turun..
Lagi-lagi pekerjaan tertunda karena hujan.. well, satu-satunya sumber untuk menyambung hidup pun harus terputus sementara.

Di seberang sana, warung tenda pun terlihat sepi pengunjung. Hanya beberapa orang yang berdiri hanya untuk meneduh.
Pengertian rezeki pun menjadi samar.

“Hujan itu rezeki nak”
“Tetapi kalau hujan, kami tidak bisa bekerja. Kalau tidak bekerja, kami tidak bisa mendapat kan uang untuk menyambung hidup”

Apa yang salah?
Atau boleh saya bilang,
Siapa yang salah?

Tidak mungkin Tuhan, karena Tuhan maha sempurna.

Pasti kami, manusia yang salah arti.

“Tanpa hujan, tidak akan ada air yang meresap ke tanah. Sumur menjadi kering. Semakin sulit mendapatkan air untuk mandi, minum, mencuci dan hal lainnya”

“Tapi tanpa uang, kami tidak bisa membeli nasi, membayar biaya pendidikan, kesehatan, cicilan, tagihan dan hal lainnya”

Saya pun hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.. 🙂

—–

Di belahan dunia lain, ada keluarga saling bunuh karena hutang uang yang tidak terbayar. Menyedihkan.

“Apakah sepadan apabila sebuah nyawa dan ikatan keluarga ditukar dengan setumpuk uang?”

Tidak. Saya tidak akan menghakimi siapapun.

Lagi-lagi, saya hanya tersenyum.. 🙂

—–

“Kamu kalau sudah besar ingin jadi apa?”

“Aku ingin menjadi pengusaha”

“Kenapa?”

“Biar aku punya banyak uang”

Hehehehehe

—–

Beberapa menjual jiwanya melakukan hal yang sama berulang kali untuk mendapatkan setumpuk kertas setiap bulannya.

Beberapa menanam bibit kebencian karena hutang kertas seikat dua ikat.

Beberapa mengunci rapat-rapat balok besi bahkan pintu rumah demi menyembunyikan beberapa tumpuk kertas.

Beberapa menjual beberapa jam waktu setiap harinya untuk mendapatkan beberapa tumpuk kertas.

—–

Sambil menunggu hujan turun agar dapat melanjutkan pekerjaan, saya kembali tersenyum,

“Semoga Tuhan mereka selalu membuat mereka tenang”

“Ah tidak, apalah saya ini yang hanya manusia, tidak sempurna dan masih membutuhkan Tuhan mereka untuk menyambung hidup”

-Hujan pun berhenti-

Waktu..

Jika saat itu saya datang,
Jika saat itu saya menghubunginya,
Jika saat itu saya memperhatikannya,
Jika saat itu saya menemaninya,
Jika saat itu saya bisa menyisihkan 1-2 jam,

“Ah apalah arti sebuah “jika” kalau memang sudah terjadi”  begitu batin ku mengingatkan..

5 bulan sudah matahari dan bulan bergantian menemani para anak adam menjalani omong kosong ini. Selalu sama yang saya utarakan.

“Ada acara hari ini? Bisa kita bertemu?”
“Maaf, saya kerja sampai malam.”

Mungkin terdengar seperti kemalasan yang bersembunyi di ketiak aktifitas.
Tidak. Bukan seperti itu. Ini semua karena tanggung jawab omong kosong.
Omong kosong yang mungkin hanya berumur (paling lama) 60 tahun.
Omong kosong pengorbanan.
Omong kosong balas budi.
Omong kosong kerja keras.

Tapi ini sudah menjadi pilihan.
Nasi pun telah menjadi bubur.

Bukannya ingin terlihat laki-laki,
Tetapi ini hanya sebuah pembuktian.

Lagi-lagi..

Pembuktian omong kosong.

“Hai, kamu apa kabar?”

“Maaf ini siapa ya? No. Ini tidak ada di contact saya”

“Oh oke, salah sambung sepertinya. Maaf 🙂 ”

Kejadian yang berulang kembali. Serupa tapi tidak sama.

Cuma keluhan yang bisa keluar dari mulut ini.
Dan penyesalan.

Hai kau omong kosong, semoga semua yang kulakukan ini dapat membuahkan hasil yang sepadan.

Semoga…..

Tanpa terasa sudah 4 tahun.
Dan saya pun masih memperjuangkan omong kosong ini dan mengabaikan (mungkin) masa depan saya.

“Ah andai waktu bisa dibeli”

🙂

Sepucuk surat dari seorang kakak..

Kedua adik ku..tumbuhlah menjadi manusia berguna..
Lakukan lah semua hal yang membuat kalian nyaman..
Berikan lah yang terbaik bagi dunia ini..
Janganlah kalian lupakan orang tua mu..
Jenguklah sesekali mereka sesibuk apapun kamu..
Kerjarlah semua impian kalian..
Jangan pernah menyerah..

Maafkanlah kakakmu ini yang tidak pernah bisa menunjukan rasa sayang kepada kalian secara langsung..
Maafkanlah karena kalian tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan sewaktu seumur kalian..
Maafkanlah karena aku tidak bisa mengajari kalian pelajaran sekolah..
Maafkanlah kakakmu ini yang kadang membentakmu, memarahimu, menyuruhmu..
Maafkanlah kakakmu ini yang selalu telat memberi kado di hari ulang tahun mu..
Maafkanlah karena jarang mengantar kalian ke tempat aktivitas kalian di pagi hari..
Maafkanlah karena jarang menjemput kalian pulang si sore hari..
Maafkanlah kakakmu yang tidak sempurna ini..

Apapun yang nanti kalian lakukan dan jalani, selama kalian bahagia, kakakmu ini ikut bahagia.. 🙂

Pengagum berat kalian,

Kakak

This is how to solve our problems (part II)

Setelah kejadian yang cukup berani dari pemimpin baru tersebut, terdengar isu bahwa selama 7 hari ke depan, daerah sekitar stadion utama di negara tersebut akan dinetralisir hingga radius 7 km. Isu yang beredarpun, yang memberi perintah tersebut adalah pemimpin baru itu. Dan gw bertanya2 dalam hati “apalagi yang bakal dilakuin sama nih pemimpin?” Besoknya gw melintas dibatas luar daerah yg dinetralisir, kemudian ga lama, ada iringin2an suporter yang memasuki area stadion tersebut. Sepertinya ga hanya 1 suporter klub. Ada dua suporter, musuh bebuyutan pula yang masuk kesana. Karena terdapat banyak big screen di luar batas daerah tersebut, maka gw pun berhenti sejenak buat nonton. Di daerah stadion pun sudah banyak aparat kemananan yang biasa dilatih untuk perang. Tak lama kemudian, kedua suporter tersebut dipersilahkan masuk ke dalam stadion tersebut.

Mereka digiring ke lapangan stadion yang rumputnya ga berstandar internasional dan mudah rusak. Kira2 terdapat sekitar 30.000 suporter dari masih2 pihak. Setelah semua masuk ke dalam stadion, para aparat yang jumlahnya ribuan tersebut, melingkari stadion tersebut dengan bersenjatakan lengkap dan siap perang. Para suporter pun bingung dengan apa yang akan terjadi. Berhubung kedua suporter ini bermusuhan, tidak jarang terjadi ledek2an antara mereka. Bahkan ada pula yang sudah memulai perkelahian dengan sendirinya. Sampai akhirnya pemimpin baru ini muncul di salah satu tribun stadion dan mulai berbicara ..

“kalian ini adalah 2 suporter yang merasa bahwa kalian ini musuh bebuyutan. Sering terjadi keonaran yang akhirnya mengakibatkan orang lain yang tidak tau apa2, atau bahkan tidak mengerti menjadi korban. Baik itu korban materi, nyawa, trauma, dll.. saya mengumpulkan kalian disini, agar kalian dapat melakukan apa yang biasa kalian lakukan, yaitu keonaran. Silakan saling membunuh satu sama lain, di sini tidak akan ada yang dirugikan, tidak akan ada orang yg tidak mengerti akan menjadi korban. Di dalam tempat ini kalian bebas melakukan apa yang biasa kalian lakukan. Apabila ada yang mencoba kabur dari stadion ini, aparat saya yang bersenjatakan lengkap, akan menembak kalian tanpa ampun. Silakan lakukan kesombongan kalian disini.”

Setelah pimpinan menyelesaikan omongannya, mereka sempat terdiam, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya ada beberapa orang yang menyalahkan suporter lain karena kejadian ini, dan akhirnya merekapun mulai menghabisi satu sama lain. Bahkan kekerasan ini ditayangkan live di big screen yang tersedia. Beberapa mencoba untuk melarikan diri, tetapi mereka yang mencoba keluar dihujani peluru oleh aparat yang sudah siaga di luar stadion. Yang gw ga usah cerita gimana kejamnya situasi di dalam. Intinya, total 60ribu suporter itu mati layaknya binatang yang diadu di dalam sangkar.

Setelah semua selesai pemimpin baru ini kembali berbicara..

“Ini contoh untuk semua bentuk anarkis yang ada di negara ini. Setiap prilaku bodoh seperti ini, saya akan hukum seperti ini. Agar orang lain yang tidak mengerti apa2, tidak menjadi korban. Ini adalah pelajaran buat semua kelompok di bidang apapun. Kalian berprilaku seperti binatang, maka saya juga akan memperlakukan kalian seperti binatang. Jika kalian merasa sebagai manusia, yang mempunyai akal, bertindaklah layaknya manusia yang mempunyai akal. Terima kasih selamat sore”

Big screen pun mati, dan gw pun melanjutkan perjalanan gw ke rumah dengan badan yang gemetar..

………..(To be continued)

This is how to solve our problems (Part I)

Selasa pagi, 16 September 2014, waktu itu gw sedang dalam perjalanan menuju ke kantor. Dengar informasi dari radio, bakal ada acara hiburan di tugu suatu ibukota. Sudah banyak screen display dan ada satu panggung dengan dekorasi yang…. yah terlalu minimalis.. At the office, I read the profile about our new leader.. pimpinan baru yg terpilih dari hasil voting langsung.. ada satu kalimat yg terkenal setelah dia terpilih menjadi pemimpin tersebut, “Saya tidak menjanjikan sesuatu yang instan, tapi, dalam waktu dekat ini saya akan tunjukan keseriusan saya dalam memimpin negeri ini” Acara di tugu sendiri adalah gagasan dari pemimpin baru ini. Anehnya, belum ada satu pun yang tahu, apa yang akan dilakukan oleh pemimpin baru tersebut dengan panggung dan dekorasi saat itu. Pukul 3 sore mulai banyak aparat2 yang terlihat menjaga spot2 tertentu di sekitaran tugu. 15 menit kemudian, iring2an mobil pemimpin baru ini memasuki lokasi. Dengan elegan dan sedikit arogan pemimpin baru ini menuju panggung. Kalimat yang pertama dia ucapkan pertama kali kira2 seperti ini ” ini salah satu bukti keseriusan saya memimpin negara yang sudah berantakan ini. Kepada IT control, coba kalian tayangkan video salah satu orang yg bersumpah rela digantung apabila menjadi tersangka sebuah kejahatan”. Setelah itu video pun diputar di screen display yang telah disediakan disana.. setelah video selesai diputar, datang lah iring2an aparat yg membawa tersangka tersebut. Menyaksikan kejadian tersebut, gw terbengong2 dan seakan sudah tahu apa yg bakal terjadi. Dibawalah tersangka tersebut ke arah panggung tanpa tutup kepala. Setelah tersangka tersebut sampai di panggung, pemimpin baru tersebut kembali berbicara ” setelah ini, saya akan buktikan keseriusan saya. Saya akan mengeksekusi semua kalimat yang keluar dari mulut seorang laki2. Laki2 itu harus memegan omongannya. Silakan para eksekutor, lakukan apa yang harus kalian lakukan” dan kemudian para eksekutor menggantung tersangka tersebut tepat didepan tugu tersebut. Pemimpin baru itu tidak memberikan kesempatan sama sekali untuk tersangka mengucapkan kata2 terakhirnya. Setelah eksekusi tersebut, pemimpin baru tersebut kembali berbicara, “Ini bukti saya.. ini adalah contoh buat kalian. Mulai detik ini juga, setiap pelaku KKN, akan diperlakukan seperti ini. Tanpa basa basi, tanpa ampun, tanpa toleransi. Untuk semua yang tidak suka dengan kepemimpinan saya, silakan pergi, silakan mencari tempat tinggal lain selain di sini. Ini bukan ladang mencari keuntungan sendiri. Dan satu hal yang perlu kalian ketahui, saya tidak takut mati. Jadi siapa pun yang berani mengancam saya serta keluarga saya, saya tidak akan mundur. Cukup sekian, selamat sore” dan kemudian pemimpin baru ini kembali ke mobil dan menuju ke istana kenegaraan. Gw yang hanya menonton kejadian itu, cuma bisa menelan ludah dalam2. Dengan sedikit lega saya hanya bisa berkata dalam hati “akhirnya ada pemimpin yang berani seperti ini” …………(To be continued)